Featured

Awal perjalananku

This is the post excerpt.

Advertisements

Kairo, mesir.

Hari itu tepat kamis malam tanggal 28 juni 2013, aku bermimpi. Dalam mimpiku, aku bersama ayah, dan adik laki-laki ku berlayar dalam sebuah kapal pesiar besar nan megah, terlihat ribuan jenis makanan menghiasi setiap meja di ruangan itu, aku dan ayahku terduduk di sudut pojok ruangan di depan sebuah meja panjang seperti bar, dan begitu banyak botol-botol minuman berbaris di depan ayahku, aku pastinya mendapati diriku kaget dan kagum bukan kepalang, ketija mendapati diriku dikelilingi kemewahan itu, namun tak di sangka ayahku merasakan sebaliknya, entah apa yang terjadi padanya malam itu, aku pun bertanya, ” apa yang terjadi? Mengapa ayah begitu terlihat bersedih?”. Tanpa sepatah katapun ayahku kian tertunduk, meneteskan air mata yang kemudian mengalir deras di ke dua pipinya menunjukan kesedihan dan kekecewaan mendalam, aku pun bertanya-tanya “apakah yang terjadi? Di mana ibuku?”. Lirihku.

 Aku terbangun, sekitar jam 4.30 clt beriringan dengan azan subuh pagi itu, aku pun terdiam, mengingat ibuku yang sudah 3 bulan ini di kabarkan sakit kulit dan ada gangguan di saluran pernafasan, hmmmh .. Di tambah lagi aku berbicara dengannya semalam di telpon beliau berkata, ” doakan ibu yah, doakan ibu, doakan ibuuu..”, begitulah kira-kira kalimatnya sebelum menutup telpon sore itu, membuatku kini semakin ketakutan, mungkinkah.. . Aku pun bergegas pulang berpamitan kepada temanku yang kebetulan aku sedang menginap di rumahnya malam tadi, hanya 5 menit dengan kendaraan umum dari rumahku. 

 Aku bersama 5 temanku, tinggal di sebuah apartemen sederhana di lantai 4, mungkin lebih dikenal seperti rumah susun, karena sewa yang terbilang murah yaitu 800 pound mesir sekitar Rp. 1,5 juta per-bulan waktu itu, begitulah sekilas kehidupan mahasiswa yang bermukim di bumi para nabi ini. Setibanya di rumah, sekitar pukul 7 pagi aku langsung menuju dapur untuk memasak, kebetulan hari ini adalah jadwalku di piket masak, aku berharap menyelesaikan semuanya jam 9 agar tidak terburu-buru untuk bersiap ke pengajian mingguan, membahas kitab al-hikam milik ibnu Athoillah al-sakandari, salah satu kitab favoritku. Begitulah kiranya aku membunuh waktu pagi itu agar tak teringat mimpi semalam, jujur .. Hatiku amat takut.

Hariku amat ceria hari itu, pergi ke pengajian bersama kawanku, bercanda tawa sepanjang perjalanan, ya walaupun harus berdiri 15 menit di bis hingga sampai ke tempat pengajian, “semuanya berjalan dengan lancar”, lirihku. Hingga di tengah pengajian, hand phone-ku berdering dan tanda masuk telpon berkode seri indonesia dari ayahku, wah aku semakin bersemangat mengangkatnya, kemudian aku ucapkan salam dengan mengecilkan suara ku, karena posisiku sedang di tengah pengajian, ku dengar dari jauh sana jawaban dari ayahku dengan suara amat letih seakan menahan tangis dan memberikan hand phone kepada saudara ku yang sepertinya berada di samping ayahku, aku pun khawatir ingin segera mengetahui apakah yang terjadi di sana, terjadilah percakapan antara aku dan saudaraku,

Aku : assalamualaikum..

Saudara : waalaikumsalam.. nak yang sabar yah semuanya milik Allah, dan akan kembali ke Allaah, ibumu sudah tidak ada nak.. Kamu yang sabar..

Aku : (dengan perasaan setengah percaya, akupun berucap) innalillahi wa inna ilaihi roji’un… 

Rasanya hati ini hancur dalam sekejap, tangispun seakan tak sanggup menggambarkan rasa kaget dan sedihku saat itu, ayahku pun melanjutkan percakapan dengan tangisnya, aku hanya berusaha menahan tangis agar tak terdengar ayahku, terbayang jarak mesir- Indonesia minimal 2 hari dengan pesawat terbang, sudah terpikirkan olehku bahwa aku harus tegar agar ayahku tak begitu mengkhawatirkanku, akupun izin kepada guruku untuk melanjutkan telpon dan keluar dari pengajian itu, tanpa ada yang tahu apakah yang sedang aku bicarakan.

Sekitar 5 menit aku menunggu, ayahku menelpon untuk kedua kalinya, meminta persetujuanku, akankah almarhum ibuku di urus dan di kebumikan hari ini, ataukah harus menunggu hingga aku tiba di Indonesia, ayahku terdengar ketakutan hari itu, berpikiran bahwa aku memintanya untuk menunggu -karena sebenarnya dalam agama islam tidak di anjurkan membiarkan jenazah lama tak di kebumikan apalagi orang-orang yang shalih-, akupun segera menjawab dengan penuh keyakinan, “ya ayah aku setuju, lebih cepat lebih baik, tapi dengan syarat ayah harus kuat semuanya sudah menjadi keputusan Allah, jangan ada air mata lagi setelah ini, ibu sudah bahagia di sana, ayah harus percaya itu”. Ayahku langsung bersemangat dan aku harap benar-benar tak meneteskan air matanya lagi saat mendengar jawabanku. Sebenarnya tak ada anak yang begitu cepat merelakan kepergian orangtuanya, aku yakin tak ada satupun yang merasa sebegitu rela dan tegarnya..

 Aku pun mulai meneteskan air mata, menahan gemuruh yang menempati setiap lorong di jiwa, meronta-ronta, ingin rasanya ada bahu di sini untuk bersandar, dan ingin sekali aku memeluk seseorang saat itu, agar aku tetap berdiri di atas kedua kakiku, sayangnya pengajian masih berlangsung dan tak ada seorangpun yang tau apa yang sedang menimpaku saat itu. Aku pun menangis sejadi-jadinya sambil menahan agar tak terdengar isakan ku.

 Setelah menangis dan merasa sedikit tenang, aku melanjutkan pengajianku dan berpura-pura tak terjadi apa-apa, aku menatap buku di depanku, tapi hati dan pikiranku sedang jauh di tanah air bersama keluargaku, tak terasa bukupun hampir menjadi genangan air diluar kesadaranku aku telah begitu banyak meneteskan air mata, walaupun tak seorangpun sadar akan itu.

Pengajianpun selesai, selesai sang guru berdoa akupun mengacungkan tanganku, semua berpikir aku akan bertanya, tapi ternyata ,

Aku: ustad! (panggilan untuk guru), saya mau minta di doakan untuk ibu saya, barusan di kabarkan telah meninggal dunia.

Serentak semua diam dan berkata ” innalillahi wa inna ilaihi roji’un”.

Ustad: ibu siapa? Nenek kamu? 

Aku: bukan ustad, ibu kandung saya yang meninggal.

Ustad: ya Allah maafkan saya, saya tidak menyangka ada yang setegar itu ketika di posisi kamu.

Pecahlah tangisku ketika itu, “bukan hanya orang lain, aku pun masih belum percaya”, lirihku.

Kemudian kamipun mengakhiri pengajian tersebut dan kembali ke rumah masing-masing, semua teman mengelilingiku dan memelukku, mengucapkan belasungkawa yang padahal aku sendiripun enggan mendengarnya. Setibanya di rumah, hand phone-ku berdering dan banyak pesan yang masuk, ketika kulihat ternyata sama, semua adalah ungkapan belasungkawa, tak ada yang ku respon, kecuali pesan dari ayahku bahwa ibuku sudah akan di kebumikan saat itu, aku pun segera mengambil wudhu dan menggelar sajadah ku, shalat dan berdoa, membaca semua doa yang aku bisa, semampuku sambil menangis tak henti-henti terbayang bahwa ibuku sedang menghadapi ribuan pertanyaan dari malaikat di alam sana, semakin pecah tangisku, lagi, dan lagi.